Rubrik SECER – Segala Cerita
Aku sebuah buku. Semua kesedihan yang kualami sekarang, bermula di hari itu. Lonceng berdering panjang, tanda pembelajaran telah usai. Decit suara sepatu menggesek lantai seperti pertunjukan musik yang kacau balau. Siswa kelas V berhamburan keluar ruangan.
Seharusnya aku berada di dalam tas Yuka. Dia lupa, aku tergeletak di atas meja.
Aku kesal sekali…
Sempat kukira, aku akan mengalami hari yang panjang, berada di ruang kelas yang sunyi. Hanya ada meja, bangku, papan tulis, serta pajangan ramai di dinding. Keadaan itu sangat menjengkelkan. Aku ingin tetap bersama Yuka. Walau bagaimana pun, aku belum habis terbaca olehnya.
Kecurigaan ku keliru. Siswa terakhir keluar ruangan adalah bocah bernama Lodi. Tatkala langkahnya sudah sangat dekat menjangkau pintu, tiba-tiba menyadari keberadaanku. Lodi pun berjalan ke meja Yuka. Tangannya lantas menyambarku.
Mulutnya bergerak, saat membaca tulisan di sampul ku; Bumi Hutan Tropis. Lodi tersenyum, membaui isi halamanku. Aku masih terbilang baru, belum genap seminggu ayah Yuka membeli ku di sebuah toko buku yang ada di kota. Kertaskertas halamanku masih wangi.
Aku kira Lodi akan gegas keluar kelas, mengejar Yuka, untuk mengembalikan aku. Aku salah, Lodi malah membuka tasnya.
“Hei, aku milik Yuka, tahu, kembalikan aku padanya dong!” Sia-sia saja aku protes.
Manusia bisa membaca buku tapi tidak bisa berbicara dengan buku. Lodi tahu apa kalau aku sangat kesal.
Awalnya aku tak suka berada di dalam tas Lodi yang bau. Amat berbeda dengan
suasana di dalam tas Yuka, wangi dan sangat menyenangkan. Malahan aku mulai menganggap Lodi sebagai anak jahat. Karena tak mengembalikanku kepada Yuka. Aku nilai perbuatannya itu adalah tindakan pencurian buku. Aku ingin sekali berteriak kepadanya, “Woi! Mencuri buku itu, jahat.”
Ketika aku dikeluarkan dari dalam tasnya yang bau apak, aku tidak berada di ruang kelas lagi. Aku sudah berada di rumah Lodi. Tepatnya di dalam kamarnya. Kamar Lodi sangat beda dengan kamar Yuka yang penuh warna. Dinding kamar Lodi dari kayu yang mulai melapuk. Tak ada pajangan, sebagaimana dinding
kamar Yuka terpajang beberapa poster Raisa, penyanyi favoritnya.

Buku-buku sepertiku juga tak ada. Aku seolah berada di tempat yang asing bagi buku bacaan. Di atas meja belajarnya, hanya ada buku tulis dan buku gambar. Buku bacaan adalah barang langka bagi Lodi. Di kamar Yuka, buku cukup banyak, memenuhi rak mungil. Sampai-sampai Yuka tak punya waktu menamatkan semua buku itu. Terhadapku saja, kadang Yuka malas-malasan membaca. Ah, bisa-bisanya aku merindukan Yuka. Aku ingin merasakan suasana kamarnya, merasakan tangan mungilnya menyentuh ku, membuka lembaran-lembaran halaman ku. Lodi memang mulai membaca ku, duduk di depan meja belajar. Dia serius sekali, tapi aku tidak senang.
“Aku tidak sudi dibaca olehmu, tahu,” kataku kepadanya.
“Siapa suruh kau mencuriku, aku tidak akan pernah ikhlas, sekalipun kau membacaku seratus kali. Dasar pencuri buku!” Demikianlah pendapatku waktu itu.
Hanyalah pendapat sesaat. Emosiku sedang jelek. Aku memelihara prasangka buruk kepada Lodi. Aku selalu ingin menganggapnya anak yang jahat. Kemudian terkejutlah aku, setelah kutahu satu fakta baru tentang Lodi. Dia betul-betul gemar membaca. Dia betah sekali duduk di depan meja belajarnya,
membacaku nyaris seperempat dari total jumlah halamanku. Itu tak pernah dilakukan Yuka sebelumnya.
Pandangan Lodi seolah tak mau lepas dariku. Bibirnya bergerak membaca tulisantulisan di tubuhku. Membacaku, Lodi seperti sedang menemukan harta karung yang sangat berharga. Aku tak bisa menyembunyikan lagi perasaan senang. Tak ada hal yang paling menyenangkan bagi buku selain dibaca oleh manusia, dan menemukan kebermanfaatan dari buku itu. Tampaknya Lodi tidak ingin aku jauh-jauh dari genggamannya. Sementara Yuka hanya menyentuhku saat di dalam kamar. Tidak pernah aku dibawa ke taman depan rumahnya. Perjalanan terjauhku bersama Yuka adalah menemaninya ke sekolah.
(Bersambung…)


