PILU BUKU Bag. 2 | Karya: MAWAN BELGIA

(Cerita sebelumnya…) Tampaknya Lodi tidak ingin aku jauh-jauh dari genggamannya. Sementara Yuka hanya menyentuhku saat di dalam kamar. Tidak pernah aku dibawa ke taman depan rumahnya. Perjalanan terjauhku bersama Yuka adalah menemaninya ke sekolah.

Ke mana pun Lodi melangkah, aku selalu digenggam. Bahkan ketika hari sudah sore, dia membawaku ke sawah. Musim tanam padi belum tiba, sawah-sawah di sana sejenak menjadi lahan untuk berburu makan bagi hewan ternak. Ada ratusan itik dibiarkan berkeliaran di sawah. Ada puluhan sapi senang melahap rumput-rumput liar.Tiga ekor sapi milik keluarga Lodi termasuk penghuni sawah itu. Ternyata setiap pagi, ayah Lodi membawa sapi-sapi itu ke sawah. Diikat di sana dengan tali panjang. Sore menjadi tugas Lodi memulangkan sapi-sapi itu ke belakang rumah.

Lodi tak ingin terburu-buru membawa sapi-sapinya pulang. Sore masih panjang, dia duduk di bawah pohon. Halamanku kembali dibuka, Lodi lanjut membacaku. Sangat menyenangkan. Perlahan-lahan prasangka buruk terhadapnya runtuh. Dia tidak sejahat yang kukira. Tapi, tetap ada yang mengganjal bagiku.

“Seandainya aku bukan buku curianmu, aku akan berkali-kali lipat merasa senang,” kataku.

“Atau begini saja, Lodi. Besok kasih tahu Yuka bahwa kau menemukanku di mejanya. Selanjutnya kau pinjam aku darinya. Yuka pasti meminjami kok,” kataku kembali.

Mulut Lodi bergerak, bukan membalas omonganku, tapi serius membaca halaman-halamanku. Ah, aku sudah tidak sabar ingin melihat apa yang terjadi keesokan harinya di sekolah. Tapi, malam lebih dulu tiba. Aku mendapat kejutan lain dari Lodi.

Itu terjadi ketika Lodi berada di rumah Paman Muh, tempatnya belajar mengaji. Tentu saja aku dibawa serta ke rumah Paman Muh. Setelah Lodi selesai mengaji, di teras rumah Paman Muh, Lodi kembali membacaku. Teman-teman Lodi penasaran terhadapku. Lodi penuh semangat menjelaskan aku. Dalam waktu singkat, Lodi telah tahu banyak cerita-cerita yang memenuhi halamanku. Teman-teman Lodi ingin tahu lebih detail ceritaku. Lodi pun membacaku untuk mereka.Mereka tergugah mendengar cerita dariku, Bumi Hutan Tropis. Terutama bab tentang Pange seekor gajah tua yang memulai perjalanan ke Pusat Hutan, untuk melaporkan kematian keluarganya oleh kawanan pemburu.

“Pinjam bukunya dong! Satu malam aja,” ucap salah satu teman Lodi.

“Ah, ini bukan bukuku, tapi punya teman di sekolah,” balas Lodi.

“Padahal aku ingin baca buku itu sampai tamat.”

“Buku ini enggak bisa kalian pinjam. Takut orangnya marah. Tapi, nanti setelah aku punya banyak buku, kalian akan puas baca buku kok,” kata Lodi.

“Kapan kamu punya banyak buku cerita?” Tanya salah satu anak.

“Kalau tabunganku sudah banyak, semua akan kupakai beli buku. Dan juga kalau anak sapiku sudah besar, akan kujual, sebagian hasilnya untuk beli buku. Mama dan papaku sudah mengizinkan.”

“Wah, keren itu, Lodi!” teman Lodi takjub.

“Pokoknya di rumahku nanti akan ada banyak buku. Kalian butuh buku bacaan, ya datang aja. Pasti kupinjami deh. Asal bukunya dibaca betul.”

“Asyik!”

Mendengar itu, aku menyesal salah menilai Lodi sejak awal. Dia ternyata bukan anak jahat. Impiannya punya banyak buku, yang tidak hanya bermanfaat untuknya, tapi juga bermanfaat untuk teman-teman sekitarnya. Aku kagum pada Lodi. Aku ingin selalu berada di genggamannya.

Dan, aku memang masih dia genggam, ketika di atas ranjang menjelang tidurnya. Halaman-halaman terakhirku terus dibaca. Hingga keseluruhan isiku terbaca. Lodi tak butuh waktu lama menamatkanku. Aku senang, aku bertambah kagum.

“Terima kasih, Lodi, kau telah memperlakukanku dengan sangat baik.” Ucapku ketika Lodi tertidur, aku berada di atas meja belajarnya. Aku juga meminta maaf telah keliru menilainya sejak awal kebersamaan kami. Aku percaya Lodi bukan anak jahat. Dia seorang anak yang gemar membaca buku.

(Bersambung…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *